MODERASI DAN HARMONI BERAGAMA DALAM SURAT TYMBAGA HOLING BATAK ANGKOLA
Nama : Ilgha Aisyah Zulkarnaen
Nim: 1720100077
Mtk: Islam dan Budaya Tapanuli
MODERASI DAN HARMONI BERAGAMA DALAM SURAT TUMBAGA HOLING BATAK ANGKOLA
Analisis artikel yang berjudul "Moderasi dan Harmoni Beragama dalam Surat Tumbaga Holing Batak Angkola"
ini menceritakan tentang lndonesia yang dikenal sebagai negara yang majemuk, terdiri dari suku, budaya, ras, golongan, dan agama.
Keragaman dan perbedaan ini bagian dari rahmat sang pencipta. Yang mana Perbedaan atau keragaman ini perlu ditanamkan dengan sikap moderasi dan harmoni setiap etnis dan ummat beragama.
Hal inilah yang menjadikan penulis mengkaji lebih dalam tentang "Surat Tumbaga Holing Batak Angkola" yang mengandung spirit moderasi dan harmoni dalam kehidupan bersama meski berbeda keyakinan.
Artikel ini sangat menambah pengetahuan dan wawasan pembacanya, karna isinya sangat banyak mengandung ilmu pengetahuan tentang kebudayaan dan adat batak angkola. Yang mana maksud dari Surat Tumbaga Holing itu artinya pol atau ajaran yang tudak tertulis pada masa lalu akan tetapi sudah dijadikan way of life dalam tata krama kehidupan masyarkata batak oleh karena itulah yang disebut nada tertulid tai tarbaca. Tumbaga adalah tembaga yang melambangkan kekohan, kekuatan, laksana besi dan baja tetapi dianut sampai sekarang. Holang artinya keling, yang menunjukkan bahwa adat batak ini sangat dipengaruhi oleh ajaran India keling, yakni yang berkulit higam.
Ajaran yang telah dijadikan way of lîfe dalam kehidupan bermasyarakat yang digali dari kearifan lokal, alam terhampar luas dijadikan sebagai landasan tata krama kehidupan umat manusia.
Salah satu surat tumbaga holing yang tidak asing lagi ditelinga kita dalam adat batak angkola yaitu dalihan natolu. Yang artinya tungku yang berkaki tiga yang sangat perlu untuk keseimbangan yang mutklak. Jika tidak seimbang bahkan sampai rusak maka tungku tidak dapat digunakan. Begitu pula perumpamaan yang jadi pedoman leluhur kita suku batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan. Tungku merupakan peralatan masak yang sangat penting untuk keberlangsungan hidup sebuah keluarga karna tungku digunakan untuk memasak makanan. Jadi dari ini, perlu menciptakan tiga tatanan kemasyarakatan yang seimbang, itulah mora, kahanggi, dan anakboru.
Dalam artikel ini juga sudah dijelaskan secara detail mengenai mora, kahanggi dan anakboru. Pertama, pihak mora, mora memiliki kedudukan yang terhormat dalam masyarakat Batak Angkola. Itulah yang disebut sorum marmora, yang ditunjukkan dengan sikap, perkataan dan perbuatan.
Mora pantas dihormati karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada suatu marga. Mora diibaratkan sebagai sumber air dalam kehidupan karena dianggap merupakan pangalapan pasu-pusu dohot pangalapan tua. Yakni, merupakan sumber berkat dan kebahagiaan terutama berkat berupa keturunan putra dan putri. Kedua, kahanggi. Kahanggi adalah satu kelompok kerabat satu marga. Di Toba, Kahanggi disebut dongan sabutuha atau biasa disebut dongan samarga atau pardonganon. Istilah namarkahanggi ini: sa salaklak, sasingkoru, sasanggar saria-ria, sa anak saboru hibul suang holong ni namarsada ina. Hal ini terlihat jika adanya Masalah warisan, masalah warisan ini menjadi penyebab pertikaian di kalangan namarkahanggi. Hal itu dapat dipahami, karena suatu keluarga yang bersaudara antara abang dan adik tidak terdapat batas-batas. Ketiga, AnakBoru. Yaitu kelompok kerabat yang mengambil istri dari kerabat Mora. Kelompok kerabat mengambil boru (putri) ini sangat royal kepada pihak keluarga istrinya, yaitu Moranya. Kedudukan unsur dalihan natolu pada hakikatnya sama tinggi. Ketertiban hubungan tiga unsur Dalihan Natolu dijaga dan dipelihara. Keharmonisan antar unsur berlangsung atas dasar keseimbangan yang serasi antara hak dan kewajiban. Ada tiga nasihat penting yang dipegang teguh oleh orang Batak agar keharmonisan hubungan antar unsur Dalihan Natolu tetap terpelihara. Ketiga nasihat itu adalah, hormat marmora, manat markahanggi, dohot elek maranakboru.
Dalam artikel ini juga banyak sekali julukan yang dijeaskan terhadap dalihan natolu ini. Seperti contohnya Julukan terhadap anak boru sangat banyak, dan telah dibahas dengan detail satu persatu diartikel ini. Pembaca jadi sadar bahwa tidak mudah menjalankan amanat sebagai mora, kahanggi, dan anak boru. Dengan demikian, sangatlah penting untuk lebih memahami dan mempelajari fungsi dari ketiga dalihan natolu tersebut.
Dilihat dari judul artikel ini, penulis ingin menyampaikan pesan yang harus diindahkan atau di pahami secara bersama-sama yaitu betapa pentingnya moderasi dan harmoni beragama dalam surat tumbaga holing batak angkola ini.
Begitu juga dengan penjelasannya yang salah satu contoh surat tumbaga holing yaitu dalihan natolu. Kita harus tau apa definisi dari dalihan natolu tersebut, unsur, fungsi dan lain-lain. Karna setelah selesai membaca bagian artikel 1-3, menurut saya masih membahas tentang definisi saja belum masuk mengenai inti dari artikel ini. Mungkin pada bagian 4 di jelaskan secara rinci mengenai moderasi dan harmoni beragama tersebut. Jika sudah ada kelanjutan dari artikelnya mungkin saya akan menganalis kembali atau merampungkannya sehingga saya dapat memahami lebih dalam lagi mengenai moderasi dan harmoni beragama tersebut.

Alhamdulillah sangat bermanfaat ☺️
BalasHapusMantap
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusSangat menambah wawasan, good👍
BalasHapus