Makalah kelompok 10

 KEDUDUKAN ULOS DAN PAROMPA SADUN

D

I

S

U

S

U

N

OLEH KELOMPOK 10

Herliana Sari Batubara :1720100052

Nurhasanah Simamora :1720100075

Dosen Pembimbing:

Dr. Zainal Efendi Hasibuan, M.A


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PADANGSIDIMPUAN

2020


KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah Swt. Dengan Rahmat dan Ridhonya. Kami sebagai penulis, bisa menyelesaikan tugas makalah ini dalam tepat waktu. Adapun judul makalah kami yaitu tentang  “Kedudukan Ulos dan Parompa Sadun”. Dan makalah ini kami tulis untuk  memenuhi tugas mata kuliah ISLAM DAN BUDAYA TAPANULI. Dengan tujuan memberikan informasi dan menambah wawasan kepada kita semua.

Kami sebagai penulis berterimakasih kepada berbagai pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, terutama kepada Dosen pembimbing Dr. Zainal Efendi, M.A. Pada mata kuliah ISLAM DAN BUDAYA TAPANULI yang telah membimbing dan membantu sampai makalah terselesaikan dengan baik. Dan kami sebagai penulis, menyedari bahwa makalah ini belum bisa dibilang sempurna dan masih mempunyai banyak kekurangan. Dan kami sebagai penulis, meminta kritik dan saran, supaya dapat menyempurnakan makalah tersebut. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.



Padangsidimpuan, 04 Desember 2020





DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i

DAFTARISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

Latar Belakang Masalah 1

Rumusan Masalah 1

Tujuan Masalah 2

BAB II PEMBAHASAN 2

Pengertian Ulos dan Parompa Sadun 2

Upacara Pemberian Ulos dan Parompa Sadun 3

Pandangan Islam Terhadap Kedudukan Ulos dan Parompa Sadun 3

BAB III PENUTUP 8

Kesimpulan 8

DAFTAR PUSTAKA 9








BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu busana khas indonesia. Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat batak, Sumatra Utara. Tenunan kain menjadi lambang budaya bagi masyarakat di beberapa daerah, termasuk Tapanuli Selatan. Setidaknya ada dua kain adat yang sangat terkenal di wilayah ini, selain Ulos ada juga Parompa Sadun. Kedua kain ini berbeda namun memiliki nilai yang sama tinggi. Parompa Sadun biasanya diberikan kepada orang tua yang baru melahirkan anak pertama. Fungsinya adalah sebagai kain gendongan anak yang baru lahir tersebut. Pemberian kain Parompa Sadun sudah menjadi kegiatan adat turun temurun, terutama bagi kelahiran anak pertama, baik berkelamin laki-laki maupun perempuan.

Namun walaupun sebagai kain penggendong anak, tidak serta-merta kain tersebut selalu digunakan oleh orang tua untuk menggendong bayi. Kain yang hanya berukuran 100x200 cm ini dianggap terlalu pendek untuk bisa menggendong anak. Tidak heran jika kemudian parompa sadun. 

Rumusan Masalah

Apakah yang dimaksud dengan ulos dan parompa sadun?

Bagaimanakah upacara pemberian ulos dan parompa sadun?

Bagaimana pandangan islam terhadap kedudukan ulos dan parompa sadun?

Tujuan Masalah

Memahami apa yang dimaksud dengan ulos dan parompa sadun.

Mengetahui upacara pemberian ulos dan parompa sadun.

Mengetahui pandangan islam terhadap kedudukan ulos dan parompa sadun.




BAB II

PEMBAHASAN


Pengertian Ulos dan Parompa Sadun

Ulos adalah kain buatan tangan penenun perempuan-perempuan suku Batak yang berasal dari Tapanuli Utara. Sebagai hasil kerja keras, ketekunan, ketelitian dan keterpaduan instrumen dari perempuan-perempuan yang duduk di belakang instrumen pembuat ulos, dengan harapan hasilnya bagus dan cantik untuk mendatangkan kebaikan. Di masa lampau bagi masyarakat Batak, ulos dibuat untuk pakaian (baju) sehari-hari dan untuk maksud lain. Juga dibuat kain adat untuk tujuan kegiatan resmi masyarakat Batak dan adat Batak. Namun demikian dengan berkembangnya zaman dan kemajuan  teknologi sandang, penggunaan ulos sebagai baju sehari-hari tidak lazim lagi, tetapi sebagai kain adat tidak berubah. Ulos adat khusus digunakan untuk tujuan kegiatan resmi masyarakat Batak dan adat Batak. Oleh karena itu hal tersebut menjadi sesuatu yang unik yang tidak berubah sampai sekarang.

Parompa sadun biasanya diucapkan paroppa adalah kain tenun tradisional ub suku Batak Angkola. Kain ini berukuran kurang lebih 100x200 cm, dihiasi dengan manik-manik dan rumbai di ujung kain, dan tenunan motif khas. Kadang-kadang di sertai inkripsi sesuai dengan pesanan. Paroppa dimaksudkan sebagai kain gendong, meskipun tidak dipakai sehari-hari., karena yang di pakai tiap hari untuk menggendong tetap kain panjang. Kain adat ini diberikan oleh orang tua seorang wanita yang baru di anugrahi anak pertama, baik bayi lelaki atau perempuan, tetapi jika anak pertama adalah perempuan biasanya akan di berikan lagi jika adik lelaki pertama lahir, tapi bila anak pertama lelaki, adik perempuannya tidak di beri lagi. 

Dalam adat batak seringkali kita mendengar “mengulosi”. Mengulosi artinya memberikan ulos, memberikan kehangatan dan berkat. Dalam hal mengulosi, ada aturan yang harus di taati, yakni hanya di tuakan yang bisa memeberikan ulos. Menurut tata cara adat Batak, setiap orang akan menerima minimum tiga macam ulos sejak lahir hingga, hal ini disebut ulos “namarsintuhu” (ulos keharusan) yaitu:

Ketika seorang anak lahir, dia akan menerima ulos “parompa” dahulu dikenal sebagai u;os “paralo-olo tondi”

Diterima pada waktu memasuki ambang pernikahan disebut disebut ulos “marjabu” bagi kedua pengantin (saat ini disebut sewaktu ulos hula).

Ulos yang diterima sewaktu meninggal dunia disebut ulos “saput”.

Parompa sadun ialah tenunan masyarakat yang mempunyai fungsi adat di daerah Tapanuli Selatan yang terkenal dengan julukan “Tonunan Ni Boru Regar Sipirok”, yang terkenal sejak dahulu sampai sekarang, kain adat ini dihormati dan dan dihargai penggunaannya, mempunyai nilai dan kbesaran dan kemuliaan dalam upacara adat baik siluluton (duka cita) maupun siriaon(suka cita). Kain ini diberikan oleh pihak mora kepada nak yang baru lahir dan digunakan untuk menggendong anak. Selain itu juga dipercayai sebagai obat atau penyembuh bagi anak-anak yang sakit. Dan parompa sadun ini diperuntukkan untuk anak yang pertama lahir baik laki-laki maupun perempuan. Dewasa ini parompa sadun ini juga diberikan kepada seseoarang yang naik pangkat sebagai penghargaan.

Adapun sejarah dalam ulos batak dan parompa sadun adalah sejak zaman dahulu, nenek moyang kita sudah memiliki suatu budaya tenun. Keunikan desain yang diciptakan nenek moyang kita pada itu adalah kemampuan suatu karya yang mencerminkan unsur-unsur yang erat hubungannya dengan unsur kepercayaan, pemujaan kepada leluhur dan memuja keagungan alam. Semua itu tersimpul pada liku-liku benang, warna benang dan terikat garis jalur benang yang menghiasi sbuah kain atau ulos kain hasil tenun.Salah satu tempat pembuatan kain ulos di pulau Samosir adalah Desa Perbaba. Para traveler juga bisa mencoba pembuatan kain ulos dengan alat-alat tradisional disini. Jika salah satu tempat untuk melihat pembuatan kain ulos adalah di pulau Samosir, yang berada di tengah-tengah Danau Toba. Anda dapat melihat keindahan Danau Toba sekaligus mempelajari pembuatan kain ulos. Disana juga terdapat banyak toko cindera mata yang menjual kain ulos sebagai oleh-oleh. Di pulau Samosir, banyak terdapat pengrajin kain ulos yang memakai alat tradisional. Para pengrajin dari pulau Samosir sudah terkenal keahliannya membuat di perhatikan.

Beberapa jenis ulos diantaranya sibolang, ragihotang, mangiring, sedum dan lain-lain. harga kain ulos berkisar dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Hal tersebut tergantung dari jenis, motif dan bahannya. Menurut kepercayaan suku Batak, terdapat tiga sumber kehangatan yaitu matahari, api, dan kain ulos. Suku Batak kebanyakan tinggal di bukit yang dingin, selain matahari, ulos juga menjadi sumber kehangatn bagi mereka. Kain ulos memiliki peranan penting dikehidupan masyarakat batak. Selain di pakai dalam kegiatan sehari-hari kain ulos juga digunakan dalam acara-acara besar seperti pernikahan, kelahiran dan ucapan kematian. Kain ulos memiliki keistimewaan tersendiri di masyarakat batak.

Beberapa jenis ulos yang dikenal dalam adat Batak adalah sebagai berikut:

Ulos Rangidup

Ragi berarti corak, dan ragidup berarti lambang kehidupan. Dinamakan demikian karena warna, lukisan serta coraknya member kesan seolah-olah ulos ini benar-benar hidup. Ulos jenis ini adalah yang tertinggi kelasnya dan sangat sulit pembuatannya. Ulos ini terdiri atas tiga bagian: dua sisi yang ditenun sekaligus, dan satu bagian tengah yang ditenun tersendiri dengan sangat rumit. Ulos rangidup bisa ditemukan disetiap rumah tangga suku batak di daerah-daerah yang masih kental adat bataknya. Karena dalam upacara adat perkimpoian, ulos ini diberikan oleh orang tua, pengantin perempuan kepada ibu pengantin laki-laki.

Ulos ragihotang

Hotang berarti rotan, ulos jenis ini juga termasuk berkelas tnggi namun cara pembuatannya tidak serumit ulos ragidup. Dalam upacara kematian, ulos ini dipakai untuk mengkapani zenajah atau untuk membungkus tulang belulang dalam upacara penguburan kedua kalinya.

Ulos sibolang

Disebut sibolang sebab diberikan kepada orang yang berjasa dalam mabolang-bolangi (menghormati) orang tua pengantin perempuan untuk mengulosi ayah pengantin laki-laki pada upacara pernikahan adat batak. Dalam upacara ini biasanya orang tua pengantin perempuan memberikan ulos bela yang berarti ulos menantu kepada pengantin laki-laki.

Mengulosi menantu laki-laki bermakna nasehat agar ia selalu berhati-hati dengan teman-teman satu marga dan paham siapa yang harus dihormati, member hormat kepada semua kerabat pihak istri dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya. Selain itu, ulos ini juga diberikan kepada wanita yang tinggal mati suaminya sebagai tanda penghormatan agar jasanya selama menjadi itrsi almarhum. Pemberian ulos tersebut biasanya dilakukan pada waktu upacara berkabung, dan dengan demikian juga dijadikan tanda bagi wanita tersebut bahwa ia telah menjadi seorang janda. 

Upacara Pemberian Ulos dan Paropmpa Sadun

Upacara pemberian kain adat ini disebut mangelehen parampa. Kain adat ini diselempangkan di bahu kedua orang tua bayi, seolah-olah dipakai untuk menggendong. Pada waktu acara seperti acara adat Batak lainnya hadir pihak-pihak yang disebut Dalihan na Tolu, yaitu pihak dari keluarga suami (kahanggi), keluarga dari pihak istri (Mora) dan keluarga dari pihak saudara wanita suami (anak boru). Pemberian kain ini disertai nasihat dan do’a dari semua yang hadir secara bergantian agar kelak anak yang baru dilahirkan akan menjadi anak yang berguna, yang merupakan perwujudan rasa syukur keluarga besar akan kehadiran anggota keluarga baru. Di sinipun diberikan juga nasi pengupaan.

Pandangan Islam Terhadap Kedudukan Ulos dan Parompa Sadun

Kain adat ini biasanya diberikan oleh orang tua kepada seorang wanita yang baru saja dianugrahi anak pertama. Sedangkan upacara pemberian kain adat ini, disebut mangalehen parompa (mnyerahkan kain panjang-red), “Parompa itu di pakai atau digunakan hanya diacara adat istiadat angkola, seperti acara bersanji untuk bayi yang baru lahir atau acara pernikahan, bukan kain gendong sehari-hari” kata Arin Batubara, warga sayaur Matinggi Tapsel kepada okezone, belum lam ini.

Kain adat ini diselempangkan dibahu kedua orang tua bayi, seolah-olah dipakai untuk menggendong. Pada waktu upacara seperti acara adat Batak lainnya, hadir pihak-pihak yang disebut Dalihan na Tolu, yaitu pihak dari keluarga suami (kahanggi), keluarga dari pihak istri (mora) dan keluarga dari pihak saudara wanita atau suami dari saudara wanita (anak boru).

falsafah dalihan natolu dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat batak.Kedudukan unsur dalihan natolu pada hakikatnya sama tinggi dengan alasan sebagai berikut:

Kalau membuat satu keputusan suhut, anak boru, dan harusn hadir dengan hak suara yang sama. 

Dalihan natolu secara harfiah adalah tiga batu yang sama tinggi yang digunakan tumpuan penjerangan untuk memasak. Semua yang dimasak kalau tidak datar tumpuanya yang tiga akan tumpuh yang dimasak. 

Giliran mora, anak boru dengan suhut berganti-ganti laksana mandi di pancuran bergiliran. 

Anak boru memberi kata putus, kalau ada satu permasalah di antara suhut, diupayakan didamaikan oleh mereka yang bersaudara kandung ataupun familinya

Dalam hal menghadapi kesulitan pihak suhut, penyelsaian biaya pesta adat selalu diatasi mora bersama anak boru atau secara bersama-sama.


Pemberian kain ini disertai nasihat dan doa dari semua yang hadir secara bergantian. Hal ini bertujuan agar kelak anak yang baru dilahirkan, akan menjadi anak yang berguna, yang merupakan perwujudan rasa syukur keluarga besar akan kehadiran anggota keluarga baru.

Sejak awal perkembangan, islam di Indonesia telah menerima akumodasi budaya. Karena islam sebagai agama memang banyak memberikan norma-norma aturan tentang kehidupan dibandingkan agama-agama lain. islam dan kebudayaan memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lain. Ajaran islam memberikan aturan-aturan yang sesuai dengan kehendak Allah SWT 








BAB III

PENUTUP

Kesimpulan 

Ulos batak adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang, yang melambangkan ikatan kasih sayang antara anak dan orang tua dan anak-ankanya antara seseorang dan orang lain. parompa sadun biasanya di ucapkan paroppa adalah kain tenun tradisional. Kain adat ini diberikan oleh orang tua seorang wanita yang baru dianugrahi anak pertama, baik bayi lelaki atau perempuan.

Makna dari pemberian ulos batak dan parompa sadun, terkandung makna yang sangat berarti dalam kehidupan berbudaya. Yaitu mempunyai makna agar dalam pemberian ulos batak dan parompa sadun ini, agar sehat jiwa dan raga. Dan juga memberikan kehangatan dan juga berkat. Dalam ulos ini juga berfungsi member panas yang menyehatkan badan dan menyenangkan pikiran sehingga kita gembira dibuatnya.



















DAFTAR PUSTAKA


Daniel T.A. Harahap, 2003, Ulos-Diskusi Iman dan Budaya, Jakarta: Rineka Cipta.

http://ameliahsibuan6.blogspot.com/ diakses pada 07 April 2019 pukul 19:53 WIB

https://lifestyle.okezone.com/read/2017/09/10/194/1773025/0kezone-week-end-parompa-sadun-budaya-khas-tapanuli-selatan-tenunan-boru-regar 07 April 2019 pukul 20:48 WIB

http://modasiregar.wordpress.com/2009/10/11/parompa-sadun/ diakses pada 07 April 2019 pukul 20:35 WIB

Sultan Tinggi Barani, 1984, Seni Budaya Tradisional Tapsel, Padangsidimpuan: Parkasa Alam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MODERASI DAN HARMONI BERAGAMA DALAM SURAT TYMBAGA HOLING BATAK ANGKOLA

Modrenisasi Beragama

Dakwah Keagamaan Islam